Sabtu, 15 Desember 2007

Robot Cerdas Pemadam Api



Konsepnya diambil dari lomba Fire Fighting Robot Contest yang sudah 12 tahun rutin digelar Trinity College, perguruan tinggi di AS. Dari Surabaya, tiga perguruan tinggi lolos seleksi tahap 2 dan akan mengirimkan robotnya bertanding di Jakarta, yakni ITS (robot Ir-Hex), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (Fathonah) dan Ubaya (Arachnid dan Smart Visy). "Robot pemadam api otomatis ini kami beri nama Arachnid yang berasal dari nama kelas binatang berkaki banyak," ujar Anton, salah satu dari dua anggota tim robot Arachnid dari Elektro Ubaya. Robot berkaki empat mirip laba-laba ini dilengkapi berbagai sensor untuk menyusuri lorong, memasuki ruangan dan menemukan api serta secara otomatis memadamkannya.


"Pada setiap sisi robot dipasangi sensor inframerah sebagai pengukur jarak," lanjut mahasiswa Elektro angkatan 2001. Karena sensor inframerah rentan terhadap perubahan cahaya (terang dan gelap), maka kepekaan sensor inframerah ini disesuaikan otomatis oleh program komputer.


"Sensor lainnya adalah sensor IR foto-dioda untuk mendeteksi jarak api lilin yang harus dipadamkan oleh robot," lanjut penghobi game komputer PC Command & Conquer ini. Sedangkan flame sensor dipakai untuk mendeteksi api. Ada pula sensor suara untuk mendeteksi suara alarm kebakaran. Semua sensor tersebut diatur oleh otak robot berupa sebuah mikrokontroler yang telah diprogram dengan bahasa pemrograman Assembler (bahasa mesin).


Sedangkan pemadam apinya dipakai kipas yang diputar oleh motor arus searah (DC). Mengapa tidak menggunakan air? "Kalau air kami harus mengisi ulang (reload) jika airnya habis, padahal robot hanya punya waktu lima menit untuk mencari titik api dan memadamkannya, plus dua menit waktu untuk kembali ke titik start," lanjut Maryanto, anggota tim yang lain.


Untuk bergerak, robot berdimensi 22x22x23 sentimeter tersebut ditenagai delapan buah baterai AA 1,2 Volt. Kesulitannya? "Pemrograman urutan jalan kaki robot. Kalau lomba robot cerdas ini, tekanannya memang di pemrograman untuk membuat robot bisa memadamkan api tanpa menabrak dinding-dinding ruangan, serta tanpa campur tangan manusia," papar asisten laboratorium mikroprosesor di kampusnya itu.


Total mereka menghabiskan duit Rp 3,5 jutaan yang didanai oleh universitas. "Itu sudah termasuk pembuatan arena lapangan Rp 500 ribuan," lanjut pemilik zodiak Sagitarius itu. "Yang termahal adalah flame sensor seharga Rp 900 ribu dibeli di jalan Blambangan, Surabaya," imbuhnya. Sedangkan 13 biji motor servo sebagai penggerak, sebijinya seharga Rp 100 ribu dipesan di Singapura via internet. "Motor ini biasanya dipakai oleh para hobbyist aeromodelling untuk kontrol flap sayap pesawat. Kalau baling-baling kipas diprotoli dari pesawat aeromodelling yang dibeli di Pasar Atum seharga Rp 300 ribu."

1 komentar:

Ato Cyber Blogs mengatakan...

wagh kaya na mantab nigh?
boleh minta source code program na gak????