Jumat, 14 Desember 2007

Cybercity,Kluster Industri,dan Inovasi

Wacana pembentukan cybercity di Indonesia sudah lama dilontarkan. Konsep untuk membangun Bandung High Tech Valley (BHTV), misalnya, sudah beredar sejak 1980an. Namun, sampai sekarang konsep tersebut masih jauh dari kenyataan karena minimnya dukungan dari pemerintah dan swasta. Sementara itu, kita melihat negara-negara berkembang lain berlomba-lomba mendirikan cybercities mereka, seperti Bangalore (India), Pudong (Cina), atau Cyber Jaya dan Johor Techno Park (Malaysia).
Apakah cybercity tersebut memang diperlukan atau hanya indah dalam tataran konsep saja? Bukankah di jaman ini, kolaborasi secara virtual sudah dimungkinkan sehingga lokasi bukan lagi masalah?
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita bisa berpaling pada konsep kluster industri (industry cluster), karena cybercity adalah kluster industri untuk bidang TI. Menurut Michael Porter (1998), kluster industri menawarkan beberapa kelebihan penting.

Pertama,

kluster industri akan meningkatkan produktivitas karena semua kebutuhan sumber daya terkonsentrasi di satu tempat. Perusahaan yang berada dalam kluster dengan mudah dan cepat mendapatkan sumber daya manusia, kapital, atau sumber daya lainnya sehingga memperkecil transaction costs. Selain itu, karena konsentrasi dan interaksi yang tinggi antar sesama anggota kluster membuat berita atau rumor cepat menyebar, para penghuni kluster dengan cepat belajar bahwa untuk berhasil dalam jangka panjang, mereka harus bisa membangun reputasi yang baik. Dengan adanya tekanan untuk membangun reputasi yang tinggi, friksi ekonomi karena kurangnya trust akan menurun. Dalam kasus cybercity, infrastruktur yang dirancang khusus untuk proyek-proyek berbasis TI seperti wireless Internet access dan data center juga memungkinkan produktivitas kerja yang lebih tinggi.

Kedua,

kluster industri akan memaksa penghuninya untuk terus berinovasi. Di dalam suatu kluster, mobilitas tenaga profesional sangat tinggi karena mereka dengan mudah berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Walau sepintas hal itu kurang menguntungkan buat perusahaan, namun bila dibedah lebih jauh, mobilitas tersebut justru membawa akibat positif berupa transfer pengetahuan, baik yang bisa diajarkan atau pun yang bersifat tacit, ke perusahaan-perusahaan lain di dalam kluster. Di samping itu, di dalam kluster biasanya akan bermunculan perkumpulan profesi, baik formal atau pun informal yang akan mempercepat penyebaran pengetahuan. Ide-ide dan praktek-praktek terbaik menyebar dengan cepat dalam kluster. Kompetisi yang ketat antar pemain dalam kluster memaksa mereka untuk tidak berpuas diri dengan status quo. Alasan inilah yang membuat kluster industri seperti Silicon Valley mampu menelurkan karya-karya inovatif tanpa henti.

Ketiga,

kluster industri mempermudah munculnya bisnis-bisnis baru. Di dalam kluster, sumber daya yang tersedia buat perusahaan besar juga bisa diakses sama mudahnya oleh perusahaan start ups. Ketersediaan semua sumber daya yang dibutuhkan membuat entry barrier menjadi rendah bagi yang ingin mendirikan bisnis baru. Karena kebutuhan sumber daya yang sudah tersedia, perusahaan-perusahaan baru tidak perlu mengeluarkan dana sendiri yang besar untuk mengakuisisi sumber daya tersebut. Kondisi ini memungkinkan perusahaan start up yang gagal mampu menghentikan usaha tanpa harus menanggung resiko tinggi dalam bentuk investasi yang sudah terlanjur dibuat. Kemudahan untuk entry dan exit tersebut jelas merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi wiraswastawan.

Selain itu, masih ada beberapa lagi hal-hal positif yang bisa didapat dengan adanya cybercity. Perusahaan-perusahaan TI asing akan lebih bersedia menanamkan investasinya di dalan kluster industri karena alasan-alasan di atas. Pendirian cybercity di luar Jakarta juga akan membantu pemerataan ekonomi ke daerah-daerah. Dari sisi yang lebih intangible, cybercity diharapkan mampu meningkatkan harga diri bangsa kita.
Melihat alasan di atas, kita bisa menyimpulkan, untuk membuat Indonesia mampu bersaing di masa depan di bidang TI, keberadaan cybercity memang dibutuhkan. Meski kebanyakan proyek TI bisa dijalankan secara virtual, interaksi sosial tetap dibutuhkan untuk hal-hal yang bersifat intangible seperti penyebaran tacit knowledge, dan pembangunan social network dan trust.

Untuk merealisasikan konsep ini, peran pemerintah sangat dibutuhkan, mulai dari pengadaan infrastruktur, jaminan HAKI, sebagai wasit dalam membangun iklim kompetisi yang sehat, dan insentif seperti keringanan pajak. Sosialisasi ke perusahaan-perusahaan swasta yang bergerak di bidang TI untuk mendukung konsep tersebut juga penting karena merekalah yang akan menjadi tulang punggung kluster.
Suksesnya cybercity ini bisa dilihat di India dan Cina. Di kedua negara tersebut, yang awalnya hanya menerima proyek-proyek sederhana berbiaya rendah dari negara maju, sekarang sudah menapak ke jenjang berikutnya. Proyek-proyek yang membutuhkan kreativitas dan inovasi sudah mulai dilahirkan dari Bangalore atau Pudong.

Tidak ada komentar: